HUBUNGAN
ILMU KALAM, FILSAFAT DAN TASAWUF
Makalah
ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Disusun
oleh:
Kelompok II/TA.B
DZIKRI
ANNAHYAN
(210514067)
Dosen Pengampu:
Ahmad Lutfi M., M.Fil.I
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
PONOROGO
_____________________________________________________________
____________________________________________________________________
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kalam merupakan disiplin
ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang
persoalan-persoalan kalam Tuhan. Jika pembicaraan ilmu kalam hanya berkisar
pada keyakinan-keyakinan yang harus di pegang oleh umat islam, tanpa
argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan
istilah ilmu tauhid atau ilmu ‘aqa’id. Pembicaraan materi-materi yang
tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq ( rasa rohaniah).
Baik ilmu kalam, filsafat, maupun
tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam, dengan
metodenya berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan
dengan-Nya.
Perbedaannya terletak pada aspek
metodeloginya. Ilmu kalam, ilmu yang menggunakan logika. Pada dasarnya
ilmu ini menggunakan metode dialektika ( dialog keagamaan ). Sementara itu, filsafat
adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
Dan metode yang digunakan adalah rasional. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang
menekankan rasa dari pada rasio. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu
tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang datang dari Tuhan.
Menurut “Mustafa abdur raziq ,
meskipun para penulis islam tidak menganggap sepenuhnya bahwa ilmu kalam dan
tasawuf teoretik sebagai suatu kajian filsafat, mereka pandang keduanya sangat
dekat dengan filsafat dan filsafat telah begitu dominasi paradigma pembahasan
keduaya sehingga keduanya telah berwarna filsafat.”
Oleh sebab itu, pemakalah ingin
menyampaikan tentang hubungan ilmu kalam, tasawuf dan filsafat. Serta
mengetahui perbedaan diantara ilmu kalam, filsafat dan tasawuf.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ilmu kalam
1. Pengertian Ilmu kalam
Secara harfiyah, ilmu kalam
berarti pembicaraan atau perkataan. Dalam lapangan pemikiran islam, istilah
kalam memiliki dua pengertian : pertama, sabda Allah ( The Word of God), dan kedua,
Ilmu kalam ( The science of
kalam ).
Dalam Al-Quran, istilah kalam ini
dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan salah satu sifat Allah,
yakni lafazh kalamullah dalam
surat An-Nisa Ayat 164 :
وَكَلَّمَ
اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (النساء : ١٦٤)
Artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”
( QS.
An-Nisa ; 164).
Menurut syaikh muhammad abduh ilmu
tauhid atau disebut ilmu kalam, adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah
tentang sifat-sifat yang wajib tetap bagi-Nya. sifat sifat yang jaiz disifatkan
kepada-Nya dan tentang sifat mustahil dari pada-Nya. dan membahas tentang rosul
Allah untuk menetapkan kebenaran risalahnya, apa yang diwajibkan atas dirinya,
hal yang jaiz yang dihubungkan/ dinisbatkan pada diri mereka dan hal yang
terlarang / mustahil menghubungkannya kepada diri mereka.
Sebutan kalam, juga dipertegas
oleh Nurcholish Madjid, yang mengutip Ali Asy-Syabi bahwa antara istilah mantiq
dan kalam secara historis ada hubungan. Keduanya memiliki kesamaan, lalu antara
kaum Mutakallimun ( ahli ilmu kalam ) dan para filosof mengganti istilah mantiq dengan kalam, karena keduanya memiliki
makna harfiyah yang sama.
Ilmu ini disebut dengan ilmu
kalam, disebabkan persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada
abad-abad permulaan hijriyah ialah apakah kalam Allah ( Al-Quran ) itu qadim
atau hadits. Dan dasar ilmu kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil
pikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan para Mutakallimin. Mereka jarang
mempergunakan dalil naqli ( Al-Quran dan Hadits ), kecuali sesudah menetapkan
benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil pikiran. Ilmu
kalam kadang disebut dengan ilmu tauhid ( mengenai keesaan Allah Swt) , ilmu
usluhuddin ( membahas tentang prinsip-prinsip agama islam ) dan ilmu akidah
atau ‘aqo’id ( membicarakan tentang kepercayaan
islam ).
2. Sumber-sumber ilmu kalam
Sumber utama ilmu kalam ialah
Al-Quran dan Al-Hadis yang menerangkan tentang wujudnya Allah Swt,
sifat-sifat-Nya, dan persoalan akidah islam lainnya. tidaklah tepat kalau ilmu
kalam itu merupakan ilmu ke-islaman yang murni, karena diantara
pembahasan-pembahasannya banyak yang berasal dari luar islam,
sekurang-kurangnya dalam metodenya. Tetapi juga tidak benar kalau dikatakan
bahwa ilmu kalam itu timbul dari filsafat yunani, sebab unsur-unsur lain juga
ada. Yang benar ialah kalau dikatakan
bahwa ilmu kalam itu bersumber pada Al-Quran dan Al-Hadis yang
perumusan-perumusannya didorong oleh unsur-unsur dari dalam dan dari luar.
Salah satu Faktor timbulnya ilmu
kalam karena kebutuhan para mutakallimin terhadap filsafat itu adalah untuk mengalahkan
musuh - musuhnya, mendebat karena dengan mempergunakan alasan-alasan yang sama,
mereka terpaksa mempelajari filsafat yunani dalam mengambil manfaat ilmu
logika, terutama dari segi ke-Tuhanannya. Kita mengetahui An-Nazham ( tokoh
mu’tazilah ) mempelajari filsafat
aristoteles dan menolak beberapa pendapatnya.
Barang siapa yang mengatakan
bahwa imu kalam itu ilmu ke-Islam-an yang murni, yang tidak terpengaruh oleh
filsafat dan agama-agama yang lain, hal itu tidaklah benar. Tetapi orang-orang
yang mengatakan bahwa ilmu kalam itu timbul dari filsafat yunani semata-mata
itu juga tidak benar. Karena islam menjadi dasarnya dan sumber-sumber
pembahasannya. Nash – nash agama banyak dijadikan dalil, disamping filsafat
yunani, tetapi kepribadian islam adalah menonjolnya Ilmu kalam merupakan puncak
dari filsafat islam.
B. Tasawuf
1. Awal munculnya tasawuf
Tentang kapan awal
munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi mengemukakan, yang pasti, istilah
sufi muncul sebelum tahun 200 H. Ketika pertama kali muncul,
banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Tasawuf
dalam pandangan mereka merupakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat
dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga
mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat. (3)
Ada yang mengatakan tasawuf dari
kata “shafa”, artinya suci, bersih, atau murni. Karena dari segi niatnya maupun
tujuannya setiap tindakan kaum sufi, dilakukan dengan niat suci untuk
membersihkan jiwa dalam mengabdi kepada Allah SWT. Ada juga yang menyatakan
bahwa ahl ash-shuffah adalah komunitas yang hidup pada
masa Rasulullah, dan senantiasa menyibukkan diri untuk beribadah kepada Allah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya U’lumu- Ad-Din menyebutkan, Tasawuf adalah budi
pekerti. Berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf. Hamba
yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena mereka melakukan suluk
dengan petunjuk islam, orang-orang zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk
melakukan sebagian akhlak, karena mereka telah melakukan suluk dengan petunjuk
(nur) imannya. Mereka memiliki ciri khusus dalam aktivitas dan ibadah
mereka, yaitu atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah orang yang selalu memelihara
dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.
2. Tujuan Tasawuf
Tasawuf banyak diminati oleh para
ulama sebagai jalan atau latihan untuk mengembankan kesucian batin atau hati.
Ada dua aliran besar yang berkembang dalam dunia tasawuf, yaitu Tasawuf falsafi (Ulama yang meminati dunia filsafat,
namun melibatkan diri dalam tasawuf berada dalam aliran ini) dan Tasawuf Sunni (Ulama yang tidak melibatkan diri pada
dunia pemikiran filsafat).
3. Perintis tasawuf tak diketahui pasti
Abdur Rahman Abdul Khaliq,
dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah
menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa yang pertama
kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam. Imam Syafi'i
ketika memasuki kota Mesir mengatakan, "Kami tinggalkan kota
Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng aliran yang
tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia; orang
yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura telah
mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama'
(nyanyian).
Kaum zindiq yang
dimaksud Imam Syafi'i adalah orang-orang sufi. Dan assama' yang
dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan.
Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi'i masuk Mesir tahun 199 H.
Perkataan Imam Syafi'i ini
mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum
zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi'i
sering berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:
"Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya
(masih bisa) kembali normal selamanya."
Semua ini, menurut
Abdur Rahman Abdul Khaliq, menunjukkan bahwa sebelum
berakhirnya abad kedua Hijriyah terdapat satu kelompok
yang di kalangan ulama Islam dikenal dengan sebutan
Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwifah (kaum
sufi).
Imam Ahmad (780-855 M) hidup
sezaman dengan Imam Syafi'i (767-820 M), dan pada mulanya berguru
kepada Imam Syafi'i. Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan
menjauhi orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak
dikutip orang. Di antaranya ketika seseorang datang kepadanya
sambil meminta fatwa tentang perkataan Al-Harits
Al-Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin
Hanbal berkata: "Aku nasihatkan kepadamu, janganlah
duduk bersama mereka (duduk dalam majlis Al-Harits
Al-Muhasibi)".
Imam Ahmad memberi
nasihat seperti itu karena beliau telah melihat majlis
Al-Harits Al-Muhasibi. Dalam majlis itu para
peserta duduk dan menangis --menurut mereka-- untuk mengoreksi
diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. (Perlu kita
cermati, kini ada kalangan-kalangan muda yang mengadakan
daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun
nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang mereka sebut renungan,
dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah
perbuatan mereka itu ada dalam sunnah Rasulullah
saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).
Pada umumnya ajaran tasawuf
berdasarkan pada pandangan filsafat bahwa alam adalah merupakan pancaran Tuhan
dan puncak pancaran tersebut adalah manusia ( filsafat emanasi). Kajian tasawuf
dalam islam tidak berbentuk sekaligus, tetapi berkembang menembus perjalanan
waktu melewati fase-fase tertentu secara bertahap.
Periodesasi
tasawuf islam :
1.
Tampil dalam bentuk ibadah dan zuhud,
seseorang meninggal dunia menuju
akhirat
serta secara teguh berusaha melakukan hal-hal yang bisa menjadi taat dan dekat
( kepada Allah ). Seperti rabi’ah al-Adawiyyah sebagai tokoh kaum zuhud wanita.
2.
Melakukan kajian teoritis. Pertama mereka
melakukan berorientasi pada jiwa
untuk
disingkap rahasia-rahasianya. mereka membicarakan tentang keasyikan, kerinduan,
takut dan harapan. Mereka mencari-cinta ilahi dimana saja bisa ditemukan.
C. FILSAFAT
Menurut plato filsafat tidaklah
lain adalah suatu pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles kewajiban
filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian
filsafat bersifat ilmu yang umum dengan
titik akhir Allah SWT. Berbicara dengan berpikir sesungguhnya erat kaitannya
dengan penggunaan sebuah potensi terpenting yang dianugerahkan Allah SWT.
Kepada satu-satunya makhluk yang disebut manusia. Potensi terpenting
yang dimaksud di sini adalah akal.
Dalam Al-Quran, kata “akal” (al’aqlu) diungkapkan dalam kata kerja (fi’il)
yang mengandung arti memahami dan mengerti. Alangkah baiknya kita dapat
mengoptimalisasi potensi akal tersebut yaitu dengan mempelajari salah satu
bidang ilmu yang memang banyak melibatkan akal sebagai alat untuk berpikir,
yaitu filsafat. Kajian filsafat pun sebetulnya bertujuan menemukan kebenaran
yang sebenarnya. Dan hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan
menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha menghadapi fakta-fakta dunia
dan kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap kritik, dengan pikiran terbuka dan
kemauan yang tidak memihak, untuk mengetahui hakikat kebenaran. Mereka
berkepentingan untuk mendapatkan pengetahuan yang teratur.
Adapun titik temu antara agama
dan filsafat adalah keduanya pada dasarnya mempunyai kesamaan, yaitu memiliki
tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud
adalah agama samawi, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Nabi dan
Rasul-Nya. Dibalik persamaan itu terdapat perbedaan pula. Dalam agama, ada
hal-hal yang penting, misalnya Tuhan, kebijakan, baik dan buruk, surga dan
neraka, dan lainnya. yang juga diselidiki oleh filsafat karena hal-hal tersebut
ada atau paling tidak mungkin ada, karena objek penyelidikan filsafat adalah
segala yang ada dan yang mungkin ada.
Alasan filsafat menerima
kebenaran bukanlah kepercayaan, melainkan penyelidikan, hasil pikiran belaka.
Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan
penyelidikannya atas wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikannya atas
wahyu. Lapangan filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama, tetapi
dasarnya amat berlainan.
Filsafat pada dasarnya adalah
perenungan yang mendalam mengenai sesuatu yang dianggap atau dinilai bermanfaat
bagi kehidupan manusia. Menurut
Titus, Smith dan Novland tentang definisi filsafat berdasarkan watak dan fungsi
adalah :
1.
Informal : Sekumpulan sikap dan kepercayaa terhadap
kehidupan
dan alam yang biasanya diterima
secara
tidak kritis.
2.
Formal : Suatu proses kritik atau pemikiran
-
terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat
kita
junjung tinggi.
3.
Spekulatif : Usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan,
artinya
filsafat berusaha untuk
mengkombinasikan
bermacam- macam sains dan
pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi
pandangan
yang konsisten tentang alam.
D. HUBUNGAN ILMU KALAM, FILSAFAT DAN
TASAWUF.
1. Persamaan
Ilmu kalam, filsafat dan tasawuf mempunyai
kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ke-Tuhanan dari segala
sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah
ke-Tuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.
Sedangkan objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan
terhadap-Nya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas
masalah yang berkaitan dengan ke-Tuhanan.
Baik ilmu kalam, filsafat, maupun
tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam, dengan
metodenya berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan
dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran,
baik tentang alam maupun manusia ( yang belum atau tidak dapat dijangkau oleh
ilmu pengetahuan karena berada diluar atau diatas jangkauannya), atau tentang
Tuhan. Sementara itu, tasawuf- juga dengan metodenya yang tipikal –berusaha
menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.
2.Titik perbedaan
Perbedaannya
terletak pada aspek metodeloginya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan
logika- disamping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk mempertahankan
keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Pada
dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (dialog keagamaan). Berisi
keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen
rasional. Dan dari segii tempat berpijak, Ilmu kalam berpijak pada wahyu dan
kesadaran adanya Tuhan. Sedangkan Dari segi pembinaan, ilmu kalam timbulnya
berangsur-angsur dan dimulai dari beberapa persoalan yang terpisah-pisah,
akhirnya tumbuh aliran-aliran ilmu kalam.
Sementara itu, filsafat adalah
sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Dan metode yang
digunakan adalah rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara
menuangkan akal budi secara radikal (mengakar), intelegral ( menyeluruh ) dan universal( mengalam ), tidak
terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangan nya sendiri yang bernama
logika. Dan berpijak dari akal pikiran dan kesadaran akan wujud diri sendiri.
Dari segi pembinaannya, filsafat
sejak semula sudah tumbuh diyunani dalam keadaan utuh dan lengkap, sehingga
ketika diterima kaum muslim tinggal memberi penjelasan-penjelasan dan
mempertemukannya dengan kepercayaan-kepercayaan Islam. Berkenaan dengan
keragaman kebenaran yang di hasilkan oleh kerja logika, maka didalam filsafat
dikenal dengan :
a.
kebenaran
korespondensi ( persesuaian antara apa yang ada dalam rasio dengan kenyataan kebenaran yang ada dialam nyata ).
b.
filsafat
koherensi ( kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu
pertimbangan
yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran
dianggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar
oleh ulama umum ).
c.
Kebenaran
pragmatik ( sesuatu yang bermanfaat dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan.
Jadi, sesuatu dianggap tidak benar jika tidak tampak manfaatnya secara nyata
dan sulit untuk dikerjakan ).
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang
menekankan rasa dari pada rasio. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu
tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang datang dari Tuhan.
Kebenaran ini disebut sebagai hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya
datang darii subjek sendiri. Dalam sains dikenal dengan ilmu yang diketahui
bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu proporsional.
Ilmu kalam ( teologi )
perkembangannya menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Dengan prinsip teologi rasional yakni hanya
terikat tegas dalam Al-Quran dan Hadits Nabi, dan memberikan kebebasan kepada manusia
dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal.
Prinsip tradisional adalah
terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti selain arti
harfiyah, tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak
dan memberikan daya yang kecil pada akal.
Perbedaan metode ilmu kalam dengan ilmu-ilmu keislaman
lainnya :
1. Filsafat islam
Filsafat yunani telah menarik
perhatian kaum muslimin, terutama sesudah ada terjemahan buku-buku filsafat
yunani kedalam bahasa arab sejak zaman khalifah al-Mansur ( 754-775 M) dalam
mencapai puncaknya pada masa Al-Makmun (813-833 M) dari khalifah bani
Abbasiyah. Antara ilmu kalam dan filsafat islam ada perbedaan cara
pembinaannya. Ilmu kalam timbul secara berangsur-angsur dan mula-mula hanya
berupa hal yang terpisah. Tetapi filsafat ini seakan-akan serentak. Sebab
bahan-bahannya diperoleh dari yunani dan sebagaimana dalam keadaan sudah
lengkap atau hampir lengkap. Mereka ahli-ahli filsafat itu tinggal
mempertemukan dengan ajaran-ajaran islam. Filsafat islam memasuki seluruh
ilmu-ilmu keislam dimana ilmu kalam adalah merupakan puncak kepribadiannya.
2. Tasawuf
Ilmu kalam itu berlandasan
nash-nash agama, dipertemukan dalil-dalil pikiran dalam membahas akidah dan
ibadah merupakan amal badaniyah yang diupayakan dapat menetap kedalam hati
nurani, sehingga bisa membentuk jiwa beragama. Tasawuf lebih banyak menggunakan
perasaan ( dzauq) dan latihan kejiwaan dengan memperbanyak amal ibadah.
Kekuasaan bani abbasiyah yang telah mulai mantap pada abad ke-2 H, dengan
kekayaan negara yang berlimpah, menyebabkan sebagai khalifah dan keluarhanya
hidup berfoya-foya, banyak melanggar syara’ dan sebagainya. Keadaan inilah yang
mendorong pesatnya gerakan sufi.
Hubungan Ilmu Kalam dengan Filsafat
Filsafat yunani menarik sekali
perhatian kaum muslimim, sejak zaman Khalifah Al-Mansur (754-755 M) dan
mencapai puncaknya pada masa Al-Makmun (813-833 M) dari khalifah Abbasiyah.
Ilmu rektorika, ilmu tentang cara berdebat atau adabul bahtsi wal munadharohsebagai
bagian dari filsafat yunani mendapat perhatian tersendiri dari kaum muslim,
sebagai suatu yang membicarakan tentang cara berdebat.
Karena ilmu kalam bercorak
filsafat yang menunjukkan ada pengaruh pikiran-pikiran dan metode filsafat,
sehingga banyak diantara para penulis menggolongkan ilmu kalam kepada filsafat.
Sebagai contoh Ibnu Khaldun ( Wafat 808 H/ 1406 M) mengatakan bahwa persoalan-persoalan
ilmu kalam sudah bercampur dengan persoalan-persoalan filsafat, sehingga sukar
dibedakan satu dengan lainnya. demikian pula penulis barat Tenneman atau H.
Ritter memasukkan mutakallimin ke dalam filosof Islam.
Hubungan Filsafat dan Tasawuf
Keduannya sama-sama berupaya
untuk mengantarkan manusia memahami keberadaan Allah, sehingga bersedia
melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Upaya untuk melakukan kebaikan
dan meninggalkan keburukan itulah yang dapat mengantarkan manusia pada kesempurnaan
jiwa.
Dan dapat disimpulkan bahwa,
filsafat lebih bersifat teoritis, sementara tasawuf lebih bersifat praktis.
Artinya, antara filsafat islam dan tasawuf sama-sama berupaya untuk
mengantarkan manusia agar memahami keberadaan Allah. Filsafat sebagai sarana
teoritis yang dapat mengantarkan manusia kepada keyakinan praktis. Keyakinan
praktis inilah yang menjadi wilayah tasawuf. Jadi, tujuan belajar filsafat
islam adalah mencapai wilayah tasawuf.
Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu
Kalam
Kajian ilmu kalam akan lebih
terasa maknanya jika diisi dengan ilmu tasawuf. Sebaliknya, ilmu kalam pun
dapat berfungsi sebagai pengendali tasawuf. Jika ada teori-teori dalam ilmu
tasawuf yang tidak sesuai dengan kajian ilmu kalam tentang Tuhan yang
didasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadis, hal ini mesti dibetulkan. Demikian
terlihat hubungan timbal balik di antara ilmu tasawuf dan ilmu kalam.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Menurut syaikh
muhammad abduh ilmu tauhid atau disebut ilmu kalam adalah ilmu
yang membahas tentang wujud Allah
tentang sifat-sifat yang wajib tetap bagi-Nya. sifat sifat yang jaiz disifatkan
kepadanya dan tentang sifat mustahil dari pada-Nya. dan membahas tentang rosul
Allah untuk memetapkan kebenaran risalahnya, apa yang diwajibkan atas dirinya,
hal yang jaiz yang dihubungkan/ dinisbatkan
pada diri mereka dan hal yang terlarang / mustahil menghubungkannya kepada diri
mereka.
2.
Tasawuf dalam pandangan mereka merupakan
latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari
akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga
mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat.
3.
Filsafat
pada dasarnya adalah perenungan yang mendalam mengenai sesuatu yang dianggap
atau dinilai bermanfaat bagi kehidupan manusia. Baik ilmu
kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Perbedaannya
terletak pada aspek metodeloginya.
6.
filsafat
adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Dan
metode yang digunakan adalah rasional.
7.
Ilmu tasawuf
adalah ilmu yang menekankan rasa dari pada rasio. Sebagian pakar
mengatakan
bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang
datang dari Tuhan.
Saran
Diharapkan para pelajar dan
umumnya pada kita semua, untuk mempelajari ilmu kalam, tasawuf dan filsafat
untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan. Dan mengetahui peranan tasawuf,
filsafat dan ilmu kalam. Ketiganya sangat berperan penting dalam bidang
keilmuan dan sebagai wacana keislaman.
Ilmu kalam merupakan disiplin
ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang
persoalan-persoalan kalam Tuhan. Dan filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan
untuk memperoleh kebenaran rasional. Dan metode yang digunakan adalah rasional.
Sedangkan Ilmu tasawuf adalah ilmu yang menekankan rasa dari pada rasio.
Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham,
atau inspirasi yang datang dari Tuhan.
Oleh sebab itu, kita sebaiknya
mengetahui secara spesifik perbedaan dan persamaan antara ketigannya. Agar
kita, khususnya mahasiswa tidak salah mengartikan tentang ilmu kalam, filsafat
dan tasawuf.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Miftakhudin. “Ilmu Kalam”. Darul Huda. Kelas
XI. ponorogo, 14 Juli
2008.
2.
Lubiss,
Saiful Ahmad, “Hubungan Ilmu Kalam, Filsafat dan
Tasawuf”,Google
on line, (http : // www. As87751. Blogspot.com,
3.
Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2008.

No comments:
Post a Comment